Siapa yang Mengajari Mereka Menulis?

“Mereka mau menulis, itu sudah menjadi kebahagiaan tak terkira. Untuk itulah saya ke sana.”

Ini adalah Nurul Haramain. Salah satu Pondok Pesantren besar di Lombok yang sering didatangi beberapa tokoh publik dan pejabat penting di negeri ini.

Ippho Santosa & Tim Khalifah​ pernah ke sini. Ustadz Felix Siauw pun pernah juga. Keduanya adalah penulis-penulis hebat yang bukunya laris manis di pasaran jagad perbukuan.

Keduanya mengajari ilmu dan teknik menulis di sini?
Enggak. Setidaknya, informasi itu yang saya dengar dari salah seorang guru di sana.

Yang satu memberikan motivasi lalu berjualan bukunya sendiri. Dan yang satunya lagi, penuh semangat merentangkan sayap dakwahnya, menguatkan iman dengan pengetahuan agama yang luar biasa.

Keduanya penulis?
Yee,..kan udah dibilang. Iya, keduanya adalah seorang penulis!

See,..?

Enggak semua penulis di negeri ini, konsern untuk mengajarkan ilmu, teknik dan dapur kepenulisan. Apalagi fokus pada pembahasan menulis saja.

Ada ilmu lain yang lebih menjadi fokus untuk disampaikan oleh sebagian mereka. Ada agenda lain yang ingin diraih dan dilakukan oleh sebagian mereka. Jualan dan dakwah, misalnya.

Meski sebagian mereka adalah penulis best seller sekalipun?
Iya. Meski penulis best seller sekalipun di negeri ini tapi enggak semua dari mereka mau mengajarkan teknik kepenulisan!

Rasanya saya ingin berpesan pada sebagian mereka. Selipkanlah semangat dan teknik menulis sederhana di antara materi utama. Di antara materi ceramah dan motivasi bisnis, misalnya

Sampaikan meski itu hanya 60 detik. 30 detik atau mungkin 15 detik saja. Berkenan disampaikan, bahwa menulis, itu pentingnya enggak ketulungan.

Aniwe,..
Lalu siapa yang akan mengajari adik-adik di Ponpes Nurul Haramain ini tentang teknik kepenulisan?

Ya sudah, yang mau aja. Mereka menyebut diri sebagai penulis, dan tetap konsern mengajari manusia lain untuk menulis saja. Bukan hal lainnya.

Tulisan ini adalah cerita hasil kunjungan saya ke sana.

Paska berbagi tentang pengetahuan kepenulisan, untuk pertama kalinya, ustadz dan ustadzah di Ponpes itu akan membuat karya buku bersama. Dilanjutkan dengan karya buku tunggal mereka.

Bersamaan dengan itu, sebagian santrinya pun turut menulis buku solo serupa. Karya mereka sendiri juga. Sedikitnya, insyaAllah akan lahir 150 penulis baru yang akan meluncurkan karya mereka secara bersamaan. InsyaAllah.

Berapa biaya yang saya minta untuk mendampingi mereka agar mampu menulis dan membukukan karyanya?

Rp.0,-

Jika pengetahuan kepenulisan yang ada di diri saya adalah titipan Tuhan, tentang rezeki biarlah Dia pula yang mengaturnya.

Mereka mau menulis, itu sudah menjadi kebahagiaan tak terkira. Untuk itulah saya ke sana.

Kriiik,…Kriiik,…Kriiik,…

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.