Batara Durga : Uji Kesetiaan yang Konyol!

“Terkadang, enggak cuma wanita aja yang jalan pikirannya sulit dipahami. Dunia pria pun sama!”

Sebelum menjadi raksasa perempuan kejam, nama Batara Durga adalah Uma. Istri dari Siwa. Sebenarnya, hubungan pasangan Dewa-Dewi ini baik-baik aja, malahan terhitung mesra banget.

Sebagaimana cewek yang mencintai suaminya, Uma benar-benar sepenuh hati dalam mencinta. Namun egoisme kelaki-lakian juga rasa kepo yang sesat membuat Siwa ingin menguji kesetiaan Uma.

“Apa benar yak, si Uma cinta dan setia sama gue?” demikian pikiran Siwa.

Suatu hari Siwa pura-pura sakit, padahal doi nggak sakit-sakit amat. Uma jadi khawatir. Mencari obat apapun agar Siwa kembali sembuh. Tapi Siwa enggak sembuh-sembuh.

Siwa yang sebenarnya punya rencana lain mengatakan pada Uma, bahwa obat untuk kesembuhannya adalah susu dari sapi putih yang ada di bumi.

Uma langsung turun ke bumi dan mencari sapi putih. Dalam pencariannya, Uma bertemu dengan seorang penggembala, yang sebenarnya adalah sosok Siwa yang menyamar! Ribet banget kan, si Siwa. Sampai segitunya menguji kesungguhan cinta si Uma.

Uma yang enggak tahu kalau penggembala itu adalah suaminya yang menyamar, lalu meminta si penggembala untuk menjual sapi putihnya. Penuh harap.

“Aku beri uang, emas, dan apapun yang kamu minta, asal aku bisa mendapatkan sapi ini,” ucap Uma.

Tentu saja penggembala yang sebenarnya adalah Siwa itu ogah memberikan sapinya. Karena dia punya rencana lain.

“Aku akan beri sapi putih ini cuma-cuma asal kamu mau tidur satu malam dengan aku,” kata pengembala alias Siwa itu, penuh kelicikan.

“Haaaaaah????!” Uma terkejut. Karena dia bukan Melinda, yang terbiasa dengan “Cinta Satu Malam.”

Uma bernegosiasi. Menjelaskan statusnya yang sudah bersuami. Tapi pengembala itu enggak peduli. Hingga akhirnya dengan berat hati dan penuh keterpaksaan demi suaminya, Uma pun bersedia tidur dengan pengembala itu.

Usai menuntaskan hasrat, pengembala itu menampakkan dirinya dalam wujud yang asli yaitu sebagai Dewa Siwa.

“Uma!! Kamu sudah selingkuh!” kata Siwa seenak jidatnya. Lha yang tidur dengan Uma kan dia-dia juga, si Siwa. Aneh, kan??

Uma kaget untuk kedua kali. Enggak sempat membela diri. Doi ngerasa zonk aja sambil membatin, “Siwa nih rada-rada juga ya otaknya!”

Jangankan untuk membela diri, Siwa bahkan enggak memberi kesempatan padanya untuk menyanyikan lagu “Sakitnya Tuh Disini” milik Cita Citata.

Tapi, apa mau dikata. Siwa tetap ngotot mengatakan bahwa Uma enggak setia. Jadi Siwa pun dengan otoritas Dewa-nya mengutuk Uma menjadi Durga, reksasi buruk rupa dengan aroma mayat menyengat.

Singkat cerita Durga harus pergi dari kahyangan dan menghuni Gandamayu. Sampai akhirnya sesuai suratan takdir, Sadewa datang meruwat Durga hingga kembali ke wujud semula yaitu Dewi Uma yang syantik.

Di akhir kisah, Siwa meminta Uma untuk kembali ke kahyangan dan menjadi permaisurinya lagi. Uma menolak. Bahkan dia ogah dipanggil dengan sebutan “Uma”.

“Panggil aku Durga!,” katanya.

Menurut cerita, Durga memilih untuk mengembara di dunia ada dan tiada. Daripada harus mengikatkan hati pada cowok yang menguji kesetiaannya dalam bentuk pengorbanan yang konyol.

Dalam kondisi Siwa yang sedang memohon dengan penuh penyesalan pada dirinya, Durga malah nyanyi lagunya Krisdayanti.

“Maaf kita putus, I am sorry good bye…”

Ya itulah. Kadang, pria suka aneh dan pe’a!

Kriiik,…Kriiik,…Kriiik,…

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.