Menderita atau Menjanda?

“Ingat, Tubuh dan jiwa kalian, adalah pemberian Tuhan. Yang harus dijaga juga kebagahiaannya.”

Ada tulisan menarik dari  Poppy Dihardjo yang menyatakan bahwa perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi pada siapa saja. Enggak melihat status ekonomi, kecerdasan, kecantikan, bentuk tubuh, atau apa pun juga.

Namun lucunya, banyak perempuan yang tetap bertahan dalam kondisi semacam itu. Alasannya klasik, khawatir mental anak akan terpengaruh sebab menjadi ‘korban’ perceraian.

Selain alasan itu, sebagian lainnya berpikir bahwa diri mereka adalah perempuan kuat. Merasa menjadi perempuan satu-satu di dunia yang bisa mengubah tabiat buruk pasangan mereka.

Sebagian perempuan ini percaya, bahwa kekuatan cinta dan doa akan bisa menyelamatkan rumah tangganya. Hanya karena tiap kali kekerasan atau perselingkuhan terjadi, pasangannya akan bersimpuh untuk memohon ampunan dengan cucuran air mata di kaki mereka.

Sebagian perempuan ini enggak sadar, bahwa diri mereka sedang terjebak psychological trap disguised as love. Jebakan psikologis berkedok cinta.

Banyak perempuan lebih memilih bertahan daripada harus menjanda. Bagi sebagian perempuan ini, status janda lebih menakutkan daripada perlakuan kasar dan perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangannya. Mereka yakin, ‘suatu hari’ semua itu akan bisa berubah. Meski entah kapan.

Mereka terus memutar otak. Mencari cara baru, apa yang bisa dilakukan agar pasangan enggak berperangai keras dan menghentikan perselingkuhannya. Sambil terus menyalahkan diri sendiri, dan berpikir bahwa merekalah yang membuat pasangannya bersikap buruk seperti itu. Konyol!

Perempuan kelompok ini terus berpikir. Bahwa kekuatan cinta dan doa akan bisa mengubah semuanya.

Pemikiran semacam itu, enggak salah. Tapi perlu diimbangi juga dengan pertanyaan, “Apakah istilah ‘sampai maut memisahkan’ artinya sampai nyawa dicabut sendiri oleh pasangan tanpa pernah merasakan kebahagiaan?”

Berilah juga ruang untuk meyakini. Bahwa Tuhan terlalu mencinta hamba-Nya. Sehingga terlau naif jika terus berpikir, Diri-Nya kerap menguji perempuan lewat kekerasan dan perselingkuhan.

Saat memutuskan untuk menikah, harusnya perempuan paham. Bahwa dirinya enggak sedang menyerahkan hidup dan mati di tangan pasangan. Dengan akal, perempuan berhak memilih sendiri jalan kebahagiaan. Bukan terus menjalani hari dalam kesedihan, dan menganggap semuanya adalah sebatas ujian.

Lawan!

Cintai dan sayangi diri kalian.

Ingat. Tubuh dan jiwa kalian, adalah pemberian Tuhan. Yang harus dijaga juga kebagahiaannya. Emang kamu pikir, enggak akan dimintai pertanggungjawaban juga, apa?

Kriiik,…Kriiik,…Kriiik,…

Sumber : empuan.id

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.